Klik disini untuk login     |     Klik disini untuk Registrasi
Public Blog Kompasiana
Didedikasikan untuk publik. Anda bisa bergabung menjadi penulis Kompasiana dengan terlebih dahulu registrasi. Cantumkan nama dan identitas jelas, bukan anonim. Pergunakan bahasa Indonesia yang benar dan sopan. Mohon tidak mempertentangkan SARA, memfitnah atau mendiskreditkan orang/lembaga, pornografi, dan beriklan. Para penulis disarankan menanggapi komentar pembaca. Tulisan atau opini yang bermanfaat dan mencerahkan akan tampil setelah dimoderasi.
Jadi Blogger itu, Membahagiakan
Oleh amriltg - 22 Desember 2008 - Dibaca 148 Kali -

intro_businessweek.jpg
Mata saya mendadak basah membaca email yang tiba di sekitar pertengahan bulan Agustus 2007. Email tersebut datang dari seorang suami yang tinggal di Jakarta dan telah 10 tahun menjalani kehidupan rumah tangga dengan sang istri yang cantik dan sangat dicintainya. Ia mengaku, tidak bahagia karena selama menjalani masa pernikahannya tersebut, belum dikaruniai anak sebagai penerus keturunan. Berbagai upaya telah dilakukan pasangan tersebut, baik medis maupun “mistis”, namun belum juga membuahkan hasil yang diharapkan.

Sampai akhirnya, ia mengaku memutuskan akan melakukan sebuah langkah yang sangat drastis dan dramatis : Menceraikan sang istri. Tekadnya sudah bulat, walau sang istri sangat menentang–meski akhirnya menyerah pasrah–pada keputusan sang suami. Lelaki itu menyatakan akan menyunting wanita lain untuk diperistri dan mampu memberikannya buah hati yang didambakannya sejak lama.

Tepat pada hari yang sama ketika ia bermaksud menuju ke Pengadilan Agama untuk mengajukan permohonan cerai, saat “berselancar” internet di kantor, mendadak ia “terdampar” pada blog lama saya dan membaca posting berjudul “Desperate Seeking Child” yang saya tulis pada tanggal 11 Agustus 2007 ketika sedang menunggui Rizky yang sakit Typhus di Rumah Sakit.

Konon, usai membaca posting tersebut, lelaki itu spontan menangis didepan monitor komputer. Di hari itu juga ia memutuskan untuk membatalkan pengajuan permohonan cerainya pada sang istri di Pengadilan Agama. Ia mengucapkan terimakasih tak terhingga pada saya karena berkat posting saya diblog, ia menjadi tercerahkan hingga akhirnya mengurungkan niat untuk mengajukan permohonan cerai .

Ia mengaku mencetak posting saya diblog itu dan memperlihatkannya pada sang istri dirumah. “Kami tertawa dan juga menangis saat membacanya. Kami menemukan semangat disitu serta bertekad untuk terus berdoa, berikhtiar dan berjuang bersama dengan segenap cinta yang kami miliki dan akan tetap kami pelihara serta syukuri sampai kapanpun”. Begitu tulis lelaki itu di akhir emailnya yang membuat bulir-bulir airmata bening membasahi pipi saya. Saya tak dapat menggambarkan bagaimana perasaan saya ketika itu. Haru, Kaget, Sedih, dan Bahagia campur aduk menjadi satu. Sayang sekali, saya lupa mengarsip email tersebut hingga kemudian email saya dibajak dan tak dapat saya akses sama sekali sampai sekarang.

Sepenggal episode diatas adalah salah satu diantara sekian banyak pengalaman batin saya yang sangat membekas di hati selama ngeblog kurang lebih 5 tahun. Beberapa pengalaman sebelumnya, sempat saya tulis disini.

Sungguh, pada awalnya saya tak menduga catatan-catatan yang saya “tuangkan” di blog ini dengan spirit ingin bercerita dan berbagi kisah walau kerap disajikan dengan bumbu narsis (baik dengan porsi “ala kadarnya” maupun “over dosis” D ), mampu memberikan efek dashyat yang tak terduga.

Di waktu yang lain, saya tiba-tiba terhenyak saat memeriksa komentar yang masuk di blog. Ada sebuah nama yang sangat familiar dibenak saya di barisan komentar. Seorang kawan dari masa lalu saat masih belajar di SMP Negeri 2 Kab.Maros dulu, menyapa saya dengan hangat disana. Betapa bahagianya saya.

Kami lalu melanjutkan komunikasi lewat email.

“Saya sedang mencari gambar kupu-kupu di internet dan akhirnyatersesat “ke rumahmu” yang ternyata adalah kawan sekelas waktu SMP dulu,” tulis Faurita, kawan saya yang kini menjadi ibu dari 3 orang anak dan bermukim di Palembang itu menceritakan bagaimana ia akhirnya “menemukan” saya dibelantara internet melalui email.

Saat menulis dan mengelola blog anak saya Rizky, beberapa kali saya menerima email tentang tips-tips mengasuh anak tentu termasuk resep-resep masakan yang cocok untuk anak dari sejumlah rekan-rekan blogger yang sebagian besar adalah ibu-ibu pengunjung tetap blog Rizky yang tak saya kenal apalagi bertemu sebelumnya. Istri saya sampai takjub (meski awalnya sempat curiga) saat saya memperlihatkan email-email tersebut padanya. Kami lalu menerapkan tips dan resep tersebut pada kehidupan keseharian kami dalam mengasuh anak.

Bagi saya, inilah sebuah berkah terindah dari aktifitas ngeblog. Interaksi virtual dari blog yang dihasilkan melalui keajaiban internet memberikan begitu banyak pengalaman batin berharga. Yang mengesankan, Yang Mencerahkan, Yang membahagiakan.

Pertumbuhan blog di Indonesia yang sungguh spektakuler, seperti yang disinyalir oleh Enda Nasution hingga kini mencapai 500 ribu blogmemberikan peluang tidak hanya semakin beragam dan kayanya ketersediaan informasi di dunia maya, namun juga membuka kesempatan dan ruang lebih luas bagi masyarakat untuk saling bertukar pikiran, kisah, pengalaman dan pendapat tentang banyak hal secara terbuka, lewat blog, dalam spirit kebebasan berekspresi dan berkreasi.

Ah..jadi blogger sungguh sangat membahagiakan! D

 

Sumber Gambar

Share on Facebook    
7 tanggapan untuk “Jadi Blogger itu, Membahagiakan”
  1. achmad subechi,
    — 22 Desember 2008 jam 10:14 am

    Waduh… trenyuh juuga membacanya… Bersyukurlah bahwa ketajaman blog, mampu merubah niat dan keinginan seseorang yang hendak meruntuhkan talisilahturrahmi dengan sang istri. Semoga kita semua bisa memetik hikmahnya dari peristiwa ini. aminnnnnnnnn

  2. syaifuddin sayuti,
    — 23 Desember 2008 jam 7:25 am

    senang rasanya jika tulisan kita di blog bisa membawa manfaat. saya termasuk blogger yang banyak tercerahkan oleh tulisan di blog. bahkan kini tak bisa lepas dari nge-blog!

  3. balog helmi,
    — 23 Desember 2008 jam 7:51 am

    na sekarang saya suda punya website,baru beberapa hari,itupun atas dorongan mas Iskandar jet, la wong agak gap tek. Tinggal bagaimana cara mengelolanya, tulisan bapaknya mas Rizky
    sangat mendororng semangat saya untuk terus jalan.
    terimah kasih,
    salam ,

    balog

  4. amriltg,
    — 23 Desember 2008 jam 9:48 am

    @Mas Helmi, Mas Achmad & Mas Syaifuddin,

    Terimakasih banyak atas tanggapannya. Saya sangat bersyukur, apa yang saya tuliskan dapat mencerahkan dan menginspirasi semua orang yang membacanya, tentu termasuk anda semua.

  5. Abuga,
    — 24 Desember 2008 jam 12:07 pm

    Ini pula sebenarnya yang menginspirasi saya untuk membuat blogger. Aku baru belajar menulis dan bukan penulis ulung. Meski demikian anak-anakku sangat terhibur dengan postingan yang sederhana. Saya juga menggunakan jurus copy paste sebagai arsip di bloggerku.

    Ada satu pernyataan: Bolehkah secara hukum dunia maya melakukan hal tersebut.
    Catatan: tidak ada unsur komersialisasi.

    Salam,

  6. Jadi Blogger Itu Membahagiakan « Perjalanan Menuju Bening Jiwa,
    — 12 Februari 2009 jam 10:24 am

    [...] Tulisan ini juga dimuat di Kompasiana [...]

  7. Public Blog Kompasiana» Blog Archive » Desperate Seeking Child : Sebuah Kisah Perjuangan,
    — 25 Februari 2009 jam 6:17 am

    [...] Sebagai tambahan, kisah diatas memiliki kesan yang mendalam buat saya karena berkat kisah yang ditayangkan pertama kali di blog saya 11 Agustus 2007 menginsiprasi sepasang suami istri yang akhirnya tak jadi bercerai hanya karena tidak memiliki anak. Kisah tentang ini sudah saya muat di Kompasiana berjudul “Jadi Blogger itu Membahagiakan”. [...]

kirim komentar

  • Isikan kode keamanan di samping.
  • Jika kata tidak dapat terbaca klik tombol "get a new challange".
  • Pastikan komentar anda disimpan juga ditempat lain sebagai backup.
  • the Outliers..(ndilalah) the opinion makers.. Menarik sekali mengikuti perjalanan sosialisasi bank syariah ke berbagai kalangan masyarakat, dan mengamati respon yang ...
    oleh Janu Dewandaru - Juli 4, 2009 : 8:05 am
  • Menuju Perbankan Syariah Yang Berdasarkan Sistem Bagi Hasil Perbankan syariah atau Perbankan Islam adalah suatu sistem perbankan yang dikembangkan berdasarkan syariah (hukum) islam. ...
    oleh Andi wardiman - Juli 3, 2009 : 3:56 pm
  • Artikel lomba harus ditayangkan di blog pribadi/situs pertemanan peserta. Baca Ketentuan Lomba lainnya